Mountaineering

Mendaki Rinjani (Part 2)

Plawangan Sembalun-Segara Anak (24 Juli). 

Enaknya mendaki kali ini adalah kami ditemani porter yang jago-jago masak. Selain membantu kami membawa tenda , peralatan masak , ya wajan, panci, tabung gas elpiji 3 KG, para porter kami juga menyediaan isotonik( pocari sweat) dan softdrink. Di Gunung minuman semacam isotonik dan softdrink adalah suatu kemewahan. Konon bahkan bisa lebih mewah atau wah lagi bila yang mendaki adalah para rombongan Bule-Bule dari Luar negeri. Mereka bisa membawa Ayam hidup, bahkan kambing hidup untuk acara BBQ atau kambing guling nanti saat di Danau Segara Anak. Well kami sudah sangat bersyukur dan puas dengan fasilitas para porter kami. Setelah makan siang, dan packing serta membereskan tenda kami pun turun ke bawah untuk menuju Danau Segara Anak.  Menurut mas Antok, perjalanan menuju danau segara anak akan memakan waktu sekitar 3-4 jam. Tak menunggu lama kami pun mulai berjalan. Awalnya saya pikir perjalanan turun kali ini bakal ringan. Nyatanya salah besarrrrr!!!!. Track yag harus kami lalui tidak langsung turun ke bawah namun semacam mengitari dinding tebing setinggi lebih dari 500m. Pemandangan sepanjang track adalah track tanah berbatu granit dengan terik matahari yang menyengat. Tak jarang pula kami harus antri dibanyak tempat karena jalurnya hanya bisa dilalui satu orang. Masih teringat waktu itu ada bule yang berkomentar β€œShitt man, this cant be just one hour hiking up, damn it”. Sembari sorot matanya melihat tebing yang tinggi menjulang. Sayang saya tidak sempat mengabadikan rute turun ini. Ujar Bule yang menempuh jalur senaru-segara anak-plawangan-summit-sembalun.

Segara Anak-Camping-Stargazing-enjoy the heaven (24 Juli).

Dari rencana 3-4 jam menuruni tebing ke danau segara anak. Nyatanya kami membutuhkan waktu 4-5 jam untuk samua anggota tim lengkap tiba di danau segara anak. Setelah isitirahat sejanak, kami mendirikan tenda setelah mencari lokasi yang menurut kami cocok. Sembari menunggu porter memasakkan makan malam untuk kami. Kami lun merelaksasi diri dengan berendam di mata air susu , sumber air panas di gunung Rinjani. Berjalan sekitar 5 menit menaiki sedikit tanjakan sampailah kami di sumber air panas. Segar banget pokoknya. Otot-otot menjadi relax kembali dan asam laktat yag menunmpuk di sendi-sendi dan otot seperti hilang seketika. Well gak langsung hilang semua sih. Namun sangat terasa untuk recovery diri. Saran saya disini adalah jangan sendirian dan bila yang tidak bisa berenang harap cukup berendam di pinggir saja. Lalu jangan terlalu malam, kaena selain sangat minim penerangan, juga spooky ada atmosfer mistis disana menurut saya. Selepas berendam di air panas. Kami kembali ke tenda dan menikmati makan malam menu kare ayam dan teh anget kopi dan jahe. Sebelum tidur saya sempatkan menikmati stargazing di pinggir segara anak. Sekali lagi sayang saya tidak membawa kamera yang mumpuni untuk menangkap memen itu. Kalau ada kesemaptan kesana lagi saya akan persiapkan kamera khusus dan tripod khusus untuk moment stargazing.

Segara Anak-Plawangan Senaru (25 Juli). 

Pagi hari kami telah bangun, menunaikan ibadah subuh, dan secangkir kopi hangat atau teh hangat.  Tak sabar. Kami segera menuju pinggir segara anak. Di pinggir danau telah banyak para pendaki yang memancing dan banyak juga yang mendapatkan ikan air tawar. Konon ikan-ikan disini dulu sengaja dibser bibitnya oleh tentara atas perintah presiden Soeharto. Tak perlu lama mencari spot untuk mengabadikan moment segara anak. Here we go:

Segara anak with Bung Mika dan Bung Darta. 

Pukul 09.00 kami telah selesai packing dan membereskan tenda. Kami brangkat terlebih dahulu dan porter kami akan menyusul. Well, sekalipun porter kami seringnya kami tinggal denga berangkat duluan. Ajaibnya mereka selalu dapat menyusul dan sampai lokasi selanjutnya lebih cepat dari kami. Two thumbs up untuk para Porter. Track yang kami lalui kali ini sangat sangat ekstrim. Terjal, bebabatu dan curam. Boleh dikatakan ini perjalanan turun yang naik. Kami harus mendaki kembali tebing bibir kaldera setinggi 500m untuk sampai plawangan senaru dari segara anak. Plus antri. Karena jalur yang sempit.

Plawangan Senaru-Senaru (25 Juli). 

Empat jam mendaki ke atas untuk turun ke bawah. Akhirnyaaaa. Sampai juga di spot famous itu. Plawangan senaru.  Aslinya di balik spot ini di arah berlawanan adalah berupa bukit-bukit tandus dengan rumput-rumput hijau-kekuningan dan sedikit pohon. Jadi sebenarnya sangat sangat puanas (terik). So saran saya pakai sunblock atau topi dan manset (legging tangan) agar tidak terbakar atau terkena kanker kulit. Setelah berfoto ria di plawangan senaru. Kami segera turun menyusuri bukit-bukit tandus itu. Sepanjang jalan kami sering berpasapasan dengan bule-bule dan pendaki lainnya. Sekitar sejam berjalan turun kami mulai memasuki kawasan hutan yang banyak dijumpai monyet. Porter dan penduduk sekitar senaru menyebut sebagai kerajaan monye. Well. Tidak berlebihan sih. Karena memang disini ada gerombolan , banyak gerombolan monyet. Larangan disini adalah untuk menjahili monyet, sekalipun hanya satu monyet. Karena mereka pada dasarnya makhluk sosial. Keusilan kecil bisa mendatangkan puluhan bahkan ratusan monyet kawanannya untuk mengeroyok si usil tadi. Pukul 14.00 kami pun mengisi perut. Beristirhat 30 menit dan melanjutkan prjalanan turun. Perjalanan turun ini bisa dikatakan saya kurang menikmatinya. Ada kejadian aneh yang terjadi waktu perjalanan turun ini. Kira-kira setelah melewati daerah yang ditumbuhi pandan-pandan berukuran besar. Teman saya mendengar suara orang berbisik di telinganya. Padahal dia saat itu pada posisi paling depan dan terpisah agar jauh dengan kami di belakang. Karena tak ingin terjadi apa-apa. Teman saya memilih berhenti  sebentar dan menunggu rombongan yang lain datang dan berjalan turun bersama.

Senaru-Homestay pak Yayat (25 Juli). 

Pukul 18.30 kami pun tiba di Pintu gerbang Senaru. Akhirnya. Perjalan turun lewat senaru ini sangat-sangat menguras stamina. Kami pun meletakkankeril kami dan mengisi perut denga makanan dan minuman yang kami beli di warung kecil sederhana tak jauh dari pintu senaru. Setelah semua anggota lengkap dan cukup beristirahat. Ambil foto lalu melanjutkan perjalanan. Hal yang baru saya thu adalah dari pintu senaru ini kita masih berjalan sekitar satu jam ataua 2 km untuk mencapai desa terdekat dan malam itu tak ada kendaraan pivk up atau ojek. Kami ya mau tidak mau harus sekali berjalan kaki. Sejam berjalan sampailah kami di desa terdekat dan kami lalu menuju basecampt Pak Yayat di desa senaru. Basecampt pak Yayat memang didesain khusus secara sangat sederhana untuk menampung para pendaki. Tapi memang ala kadarnya. Ala kadarnya ini kalo ukuran pendaki sudah sangatlayak. Walau ada bagian yang hanya berlaskan spanduk atau terpal. Pun sama dengan atapnya. Disini kita bisa membeli makanan-minuman, karena memang warung. Mandi juga bisa. Bagi pendaki perempuan biasanya diberikan tempat lebih layak berupa kamar berdinding batu bata (bagian rumah permanen pak Yayat). Sedangkan pendaki laki-laki di Basecampt sederhana yang disediakan.

Homestay pak Yayat-Hostel @Senggigi (26 Juli). 

Pagi hari 26 Juli kami sudah terbangun. Agenda pagi ini adalah tracking kecil dan menikmati dua air terjun di kaki rinjani di desa senaru. Telu Keleup dan Telu Keleup. Kira0kira butuh empat puluh menit sampai pintu gerbang Telu Keleup. Dari sana kita masih harus berjalan menyusuri jalan ke arah kanan sekitar 30 menit. Apa yag kami dapatkan adalah viewa air terjun yang bersih, sepi, dan bushhh….terasa banget di muka saya embun air adari air terjun setinggi sekitar 30 meter. Tak buan buang waktu kami langsung berman, berenang, atau sekedar berendam di sekitar air terjung tiu kelep. 

Hostel@Senggigi-Bandara Internasional Lombok (26 Juli). 

Setelah selesai dari Tiu Kelep. Kami kembali ke basecampt pak Yayat. Bersih-bersih diri. packing, dan sarapan. Kemudian cabut menuju Mataram dengan mobil L300 yang kami sewa. Rencana awal kami menginap di Mataram. Namun berubah di Senggigi karena Bang Darta dan Bung Mika memang belum pernah. Kami menginap di Hotel Sendok. Malamnya hanya bejalan menyusuri senggigi dan sekedar mencari suvernir. Untuk kemudian besok pagi dini hari menuju ke Bandara Internasional Lombok. Waktunya kembali ke Jakarta. Thank U Lombok. See U Rinjani. I promise I’ll comeback to hike again.

NB : Yup, 5-7 Mei 2017 saya pun akhirnya ke Rinjani, tapi dalan rangka Rinjani100, event lari trail tahunan di Gn.Rinjani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s