Mountaineering · Travelling

Mendaki Rinjani (Part 1)

22-26 Juli 2015

Anjani,atau Rinjani, gunung yang pernah dinobatkan sebagai gunung dengan jalur pendakian terindah seasia tenggara. Well memang tidak berlebihan memang. Tiap orang yang pernah kesana pasti akan takjub dengan keindahannya. Waktu saya hanya mengenal Rinjani melalui blog, dan video youtube pun rasa decak kagum sudah cukup untuk mengumpulkan niat, dana, dan persiapan lainnya untuk mengagendakan perjalan kesana.Keinginan untuk mendaki Rinjani ini pun sudah cukup lama. Tepatnya tengah tahun 2014. Terutama semenjak mantengin video blog pendakian Rinjani dari Donni Langgeng. Gayung pun bersambut apalagi setelah berubah status menjadi Pegawai Tugas Belajar karena melanjutkan studi ke div dari sebelumnya diii. Jatah hari libur pun lebih banyak dari sekedar cuti tahunan 12 hari. Ya iyalah. Setelah tebar racun sana sini akhirnya terjaringlah dua orang anggota pejesebelas adventure. Bang Mika dan Bang Darta.

img_20150722_163907_ao_hdr

Bandara Sokarno Hatta-Bandara International Lombok (22 Juli). Pagi 22 Juli, kami bertiga bertemu di Bandara Soeta terminal 2. Waktu itu agak was was jangan jangan rencana kita bisa batal karena beberapa hari ini memang Gunung Raung di Bondowoso sedang erupsi. Akibatnya beberapa flight tujuan ke Lombok dan Bali ditunda bahkan dibatalkan karena adanya debu vulkanik. Penerbangan kami mengalami hal serupa. Yaitu delay. Well, sebenarnya setelah delay 2 jam pesawat kami berhasil take off. Namun setelah sejam di udara pesawat kami mendarat kembali ke Soeta. Karena penumpukan antrian dan debu vulkanik. Pukul 9 malam akhirnya pesawat kami diijinkan oleh ATC. Jam 00.30 WITA akhirnya pesawat kami tiba di BIL (Bandara Internasional Lombok). Disana, driver kami, pak Andi, telah menunggu. Kami pun langsung meluncur ke Desa Sembalun.

Bandara Internasional Lombok-Homestay @Sembalun (22 Juli). Untuk mendaki Rinjani. Ada tiga jalur pendakian yang utama. Yaitu: Jalur Sembalun, jalur Torean, jalur Senaru. Trip kali ini kami memilih jalur sembalun, karena merupakan jalur yang relatif paling tidak berat. Dibandingkan Senaru dan Torean. Walaupun lebih panjang, karena harus “setengah mengitari” Rinjani yaitu melalui sabanna yang legendaris itu. Perjalanan dari Bandara ke Sembalun dapat ditempuh selama 4 Jam. Di tengah perjalanan, kira-kira 30 menitan sebelum masuk desa sembalun kami berhenti sejenak untuk menikmati Stargazing . Menikmati milkyway yang sangat indah dan terlihat jelas tanpa bantuan settingan kamera SLR  sekalipun. Sayang kamera yang saya bawa, xiomi mi4 dan bpro tidak cukup kompeten untuk bisa menangkap momen indah itu. Tiga puluh menit kemudian kami pun sampai di Desa Sembalun. Tidak ada yang istimewa awalnya saat kami tiba dini hari itu disana. Setelah mengisi perut. Kami pun menuju homestay kami di desa sembalun, dan tidur untuk mengisi stamina untuk pendakian keesokan harinya.

Homestay @Sembalun –Pos Gerbang Pendakian (23 Juli). Pagi hari setelah sholat subuh, kami sarapan dengan makanan khas Sembalun. Sop buncis kacang merah yang pedas, nasi, tempe, telur. Setelah sarapan dan persiapan packing saya menyempatkan berjalan-jalan sejenak di sekitar homestay dan menemukan pemandangan amazing seperti ini :

IMG_20150723_081644_AO_HDR.jpg

Pos Pendakian-Pos 1-Tengengean-Padabalong-Post 4-Post 5-Plawangan Sembalun (23 Juli). Setelah sarapan dan mengepak keril. Mobil pick up kami pun datang. Kami berdelapan, saya, Bang Mika, Bang Darta, Mas Yuli, Mas Antok, Mas Yoga, mbak Ratih naik ke mobl pick up dan menuju ke Pos Perijinan.  Perjalanan sebenarnya belum mulai, namun kami sudah disuguhi keelokan alam desa Sembalun yang amazing. Literrally amazing. Dari atas mobil pick up kita dapat melihat jelas kalau desa ini memang indah. Bukit Tiga dara , bukit penggarsingan. Setelah mengurus perijinan, kami berdelapan lanju t ke pos pendakian gerbang Rinjani Sembalun. Dari pos pendakian ini kami bisa dengan jelas melihat bentuk strato vulkano bentuk kerucut dari Rinjani yang sangat tinggi menjulang. Pukul 09.00 kami pun melangkahkan kaki pertama menuju Pos 1 dari Gerbang pendakian Rinjani.  Tak berselang lama. 10 menit berjalan kami langsung disuguhi pemandangan majestic the legendari savanna. Sabana Sembalun seperti ini.

IMG_20150723_093916_AO_HDR.jpg

Sekitar sejam berjalan sampailah kami di Pos 1. Penampakan pos 1 ini adalah bangunan semi permanen dari semen beratapkan seng yang hanya muat untuk 4 orang. Disini kami berhenti sejenak, duduk di sekitar pos. Karena pos penuh. Bersama pendaki-pendaki lainnya. sedikit menetralkan asam laktac yang mulai terakumulasi di sendi-sendi dan otot. Perjalanan pun kami lanjutkan. Tujuannya adalah pos Tengengean. Yang dalam bahasa Lombok artinya kotoran hidung. Perjalanan berjalan kaki sambil sesekali mengabadikan momen melalui kamera kami menuju Pos Tengengean memakan waktu sekitar dua jam. Lewat tengah hari kami sampai di Pos Tengengean.  Disini rasa kagum dan amaze ke keindahan savanna mulai bercampur dengan kecapekan di sekitar lutut dan kaki. Walau isi keril hanya logistik, snack, matras, minum, sb, pakaian ganti, flaslight, perlengkapan sumiit attact, rasanya sudah sukup menyiksa saya. Disini para portet kami yang membawakan tiga tenda, dan peralatan memasak, menyiapkan makan siang untuk kami berdelapan.  Tentunnya bukan mie instan. Makanan mainstream di gunung. Ada nasi, ikan goreng, Sop, dan seikit mie Instan. Di pos Tenngengean kita akan bisa melihat banyak pendaki beristirahat yang sebagian besar malah bukan wajah Indonesia. Yup, Bule was scattered all arround this Post. Tapi dengan fasilitas yang amazing. Kursi lipat duduk, menu makan siang yang super fariatif, buah –buahan (yang terlihat : semangka, melon, nanas), dan softdrink. Ah saya ngiri. Well ono rego ono rupo. Setelah makan siang, istirahat sejenak, dan menunaikan kewajiban sholat, kami pun melanjutkan pendakian ke Pos Selajutnya. Pos Padabalong. Kontur track yang kami akan kami lewati kali ini bisa dikatakan banyak berbeda dengan track dari Pos Gerbang Pendakian ke Pos Tengengean. Savannanya masih tetap, namun track yag kami lalui naik turun lebih curam, mendaki bukit-bukit kecil. Sampai akhirnya sampai ke suatu Pos yang tampak terletak di antara dua tebing karang yang memanjang, atau sungai menurut saya, hanya saja sungai tersebut tidak berair hanya berisi pasir. Dugaan saya ini merupakan bekas  jalur lava saat Rinjani masih aktif dulu, sebelum tinggal Baru Jari Aktif. Di Pos Padabalong, kami istirahat sejenak sebelum lanjut ke Pos 5 melewati 7 Bukit Legendaris. Bukit Penyesalan. Track sebenarnya pun dimulai. Kami memulai langkah demi langkah menapaki bukit penyesalan. 7 Bukit penyesalan. Sebenarnya ternyata, menurut bang Antok, jumlah bukit yang dilewati total hanyalah sejumlah enam setengah. Bukan Tujuh. Setengah terakhir yang salah satu yang terberat. Etape Bukit penyesalan diwarnai dengan kabut yang lumayan tebal. Bukit satu-dua-tiga terlewati terasa reltif mudah. Namun keempat dan kelima beuhhh. Memanjang dan menghajar kaki. Eh tepatnya lutut ini. Tapi memang untuk sesuatu yang amazing dan indah ada “harga” yag harus dibayar. Hasilnya adalah seperti ini.

IMG_20150723_175339_AO_HDR.jpg

Pukul empat sore. Kami berdelapan tiba di Pos Kelima di antara Bukit Penyesalan. Dari sini kita bisa mendapatkan pemandangan samudera awan dan a glimpse pulau Lombok. Waktu itu saya menargetkan dapat Sunset di Plawangan Sembalun. Namun apa daya, kondisi fisik saya yang waktu itu kelelahan tidak mau kompromi memeuhi target itu. Alhasil, sekitar pukul enam sore,saya sampai di Plawangan Sembalun, dimana bang Mika, bang Yuli, Bang Darta sudah tiba terlebih dahulu. Agenda setelah sampai Plawangan sembalun adalah kami mendirikan tenda yang dibawa porter sementara porter bertugas menyiapkan masakan untuk makan malam untuk kami. Segelas teh anget, susu hangat, dan wedang jahe kami sruput menemani dinginnya malam saat itu. Dari campsite di Plawangan Sembalun malam itu kita dapat melihat jelas deretan tenda-tenda pendaki lainnya lewat lampunya yang warna-warni di tepi punggungan plawangan sembalun. Selain itu lampu-lampu warna warni tenda pendaki lainnya yang berada di bawah. Yaitu di segara anakan. Stargazing sambil memandangi ribuan bintang yang terlihat dan milkyway yang indah jadi bahan obrolan kami saat itu. Well, kalau ada anak astronomi pasti akan sangat excited dengan pemandangan memanjkan mata pendaki saat itu. Sayang saya tidak dapat mendokumentasikan suasana malam itu dalam foto karena keterbatasan kamera yang saya bawa. Setelah menyantap makan malam, dan bersiap mempersiapkan peralatan untuk summit attact esok pagi dini hari. Kami pun terlelap tidur.

Plawangan Sembalun-Summit Attack-Anjani Peak (24 Juli). Dini hari pukul setengah 3. Mas Antok dan mas Yuli membangunkan kami semua untuk bersiap summit attact. Sebenarnya agak telat 3 jam bila summit attact ingin mendaptkan sunrise di puncak Rinjani. Tapi, dengan pertimbangan kondisi fisik dan antrian pendaki ke puncak Rinjani. Jam tiga pagi dini hari kamipun mulai summit attact. Track awal summit attact adalah kontur tracak tanah sedikit naik dan turun dan tidak terlalu curam. Selepas Plawangan Sembalun, atau sekitar 30 menitan, langsung kami dihadapkan track yangs sesungguhnya. Track mirip mahameru namun dengan pasir lebih kasar dan kerikil lebih besar. Kondisinya saat itu berangin kencang dari arah samping menuju ke arah segara anak. Jadi kami harus hati-hati untuk menempatkan diri agar tidak terlalu pinggir kanan di track agar tidak jatuh dari tebing kaldera ke segara anak. Sering kami harus berlindung diantara batua atau jalur tanah berbentuk cekungan untuk istirahat dan menghindari angin yang bertiup kencang. Saat itu sekalipun memakai jaket gunung. Namun dingingnya suhu dan kencangnya angin masih dapat saya rasakan. Pendakian summit attack menuju puncak Rinjani juga memerlukan strategi khusus. Track awal memang sudah berpasir dan kerikil, namun masih relatif mantap dibuat pijakan. Sedangkan pada sepertiga akhir. Kontur Track berubah. Sangat mirip Mahameru. Naik tiga turun satu. Atau Naik lima turun tiga. Strategi saya saat itu adalah terus melangkah sepuluh langkah ke atas, lalu berhenti sepuluh detik, lajut sepuluh langkah ke atas, berhenti sepuluh detik, begitu seterusnya. Di sepanjang track kita akan dapati banyak pendaki asal luar negeri yang juga ikut merasakan sensai summit attack dan pendaki lokal yang berjuang sampai ke atas. Well, kalau sebutan gunung Bule disematkan ke alias gunung Rinjani juga rasanya pantas. Karena memang banyak pendaki luar negeri berambut pirang atau bule di sepanjang jalur pendakian gunung ini. Pukul setengah enam pagi hari, sesaat setelah matahari tebrbit. Kami berhenti sejenak untuk menikmati sunrise dan takjub dengan apa yang kami lihat. Bayangan Rinjani berbentuk kerucut yang jatuh pada lautan awan yang mengelilingi gunung. Tak ketinggalan di sebelah kanan jalur ke puncak yang selama malam dan dini hari tidak tampak, mulai memperlihatkan  keindahannya, yaitu segara anak. Indonesia is dangerously beautiful.

IMG_20150724_063740.jpg

Setelah berjuang selama kurang lebih enam jam. Pukul 09.00 kami pun tiba di puncak Rinjani. Tak ada rasa lain selain rasa syukur dan dari perjalanan ini kami mendapatkan banyak pelajaran. Anjani memang menuntut. Menuntut kesabaraan, kegigihan, tekad, determinasi.  Track summit attack yang harusnya jelas terlihat sampai puncak namun nyatanya tidak semudah yang terlihat. Di puncak telah menunggu mas Yuli mas Antok mas Darta baru Mas Yoga. Baru kemudian saya dan Bang Mika sampai Puncak. Mbak Ratih dan Mas Dedi tidak sampai puncak karena mas Dedi menemani mbak Ratif yang keram perut dan cidera kaki. Alhamdulillah, sampailah kami di puncak Rinjani.

img_20150724_092240_ao_hdr

Anjani Peak-Plawangan Sembalun (24 Juli). Setelah puas berfoto-foto di Puncak Rinjani. Jam 10.00 kami pun mulai turun kembali ke Plawangan Sembalun. Dari perjalanan turun ini barulah kami ngeh kalo Summit Attack tadi pagi terasa jauh dan berat sangat karena track yang selain berpasir, berkerikil, berangin kencang, juga sangat sangat memanjang. Mungkin ada 5 Km jalan menurun melandai yang harus  dilewati. Lama waktu untuk kembali ke plaeangan sembanlun adalah dua jam. Yup. Dua jam saja sodara-sodara. Padahal untuk mendakinya dari Plawanga Sembalun ke Puncak butuh waktu enam jam. Dua jam turun, menyusuri trak yang berpasir, dan ditambah teriknya panas matahari akhirnya pukul 12.00 saya tiba kebali di tenda kami di campsite di Plawangan Sembalun.

img_20150724_084749_ao_hdr

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s