Book Nerd

Resensi : Think Like a Freak

Judul Buku : Think Like a Freak
Nama Pengarang : Steven D. Levitt & Stephen J.Dubner
Penerbit : Noura Books
Tahun Terbit : 2016
Cetakan : Ke-I
Jumlah Halaman : 268
Think Like Freak
Sumber: Koleksi Pribadi

Kalau ada pertanyaan : Siapa yang lebih mudah dibodohi, anak-anak atau orang dewasa?. Jawabannya adalah orang dewasa. Orang Dewasa cenderung berpikir secara sistematis dan terpola dan mudah diarahkan. Sedangkan anak-anak cenderung abstrak dan eksploratif. Selain itu enggan atau jarang menanyakan hal-hal yang sepertinya sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Levitt dan Dubner dalam buku “Think Like Freak” ini banyak menjelaskan fakta-fakta yang bagi saya sendiri harusya sudah tak perlu dipertanyakan tapi justru menjadi bahan bahasan dalam sebuah buku yang menarik.

Seperti contohnya, menurut penelitian penjaga gawang melompat ke kiri 57% dan ke kanan 41%  itu berarti mereka tetap di tangah-tengah hanya 2 kali dalam 100 kali. Hal ini berarti bila seorang striker atau pemain sepak bola yang mendapat kesempatan, katakanlah tendangan bebasa atau penalti ke gawang. Maka saran terbaik untuk menjebol gawang lawan adalah  adalah dengan menendang tepat ke tengah gawang. Bukan ke arah kanan atau kiri. Tentu dengan perhitungan adanya pagar betis. Kecuali untuk tendangan pinalti. Respon kiper pun selalu akan lebih cepat sepersekian detik daripada penendang bola, karena bila terlambat atau merespon setelah penendang bola menendang bola maka kiper tidak  akan dapat menyamai kecepatan bola. Dan dijelaskan pula mengapa rata-rata kiper adalah anggota tim yang lebih berumur dibandingkan yag lain. Jadi bila suatu saat teman–teman akan menenang bola saat penalty,pastikan tendanglah ke tengah, bukan ke sisi kanan atau kiri gawang.

Selain itu, dalam bukunya, Levitt dan Dubner juga mengungkapkan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah makhluk insentif. Agar sesuatu dikerjakan atau tidak dikerjakan maka harus ada insentifnya. Gagasan-gagasan sederhana dalam buku freakonomics dan buku superfreaknomics terdahulu:

  • Insentif adalah landasan dari kehidupan modern
  • Mengetahui apa yang harus diukur, dan cara mengukurnya dapat membuat kerumitan dunia berkurang
  • Kearifan konventional sering kali salah
  • Korelasi tidak sama denga kausalitas

Hal yang menarik lainnya adalah orang-orang paling cerdas sekalipun cenderung mencari bukti yang mengonfirmasi apa yang sudah mereka pikirkan. Juga saat menceritkan George Benard Shaw, pendiri London School of Economics : beberapa orang berpikir hanya dua atau tiga kali dalam setahun. Bahwa sebagian besar dari kita ternyata sangat jarang “berfikir lagi”. Apalagi untuk hal-hal yang nampaknya sudah seperti itu mestinya.

Temuan menarik lainnya adalah National Health Service, ketika orang-orang tidak membayar biaya sebenarnya dari sesuatu, mereka cenderung mengonsumsinya secara berlebihan. Mirip dengan prinsip tidak mau rugi. Bila kita mengikuti asuransi kesehatan misalnya, yang total loss, bukan unit link. Maka misalnya dalam setahun tidak digunakan karena kita sehat walafiat, maka ketimbang rugi tidak menggunakan sama sekali kiata akan menggunakannya sekalipun sebenarnya tidak perlu.

Kemudian, apabila kita ditanya “Apa Tiga kata yang paling sulit diucapkan?”. Jawabnya bukan “I Love You”. Namun “ Aku tidak tahu” tau “I Dont Know”. Sebagian besar orang dewasa sangat enggan mengucapkan kata-kata tersebut melebihi kata-kata yang sepertinya susah diugkapkan semua laki-laki saat mengalami fase first love. Orang-orang pada dasarnya tidak mau tampak bodoh atau kelohatan bodoh. Sehingga mereka memilih menjawab dengan berputar-putar, terutama politisi, dan untuk orang awam maka menjawab sekenanya dan memilih tidak mengatakan “I dont know”.

Levitt dan Dubnerr juga menceritakan bahwa jadi apa yang kita “tahu” jelas dapat dibentuk oleh pandangan politik atau agama kita. Definisi atau cakupan tahu partai republik akan berbeda dengan partai Demokrat (USA). Definisi atau cakupan tahu partai nasionalis akan berbeda dengan religius. Pun dengan budaya dan bangsa. Dengan kata lain, bisa jadi sulit untuk benar-benar “tahu” apa penyebab atau solusi sebuah masalah tertentu-itupun untuk masalah yang sudah terjadi.

Paul Krugman, pemenang hadiah nobel, mengapa banyak prediksi ekonom gagal ? Karena mereka berlebihan memandang sesuatu dan membuat prediksinya sendiri, contoh pertumbuhan internet yang melambat. Selain itu kenapa kebanyakan prediksi ekonomi itu gagal? Jawabannya adalah karena dunia di masa mendatang mempunyai asumsi yang berbeda dengan asumsi yang digunakan saat prediksi dibuat. Kecuali untuk hukum hukum alam yang telah berjalan selama jutaan tahun, seperti The Law of Gravity, The Law of Motion, The Law of Optics.

Lalu seringkali di berita online kita dapati para “pengamat” atau yang mendadak jadi “pengamat” atau “komentator” berkomentar panjang lebar tentang hal yang sebenarnya bukan kompetensinya untuk menjelaskan. Berbekal titel akademik seperti Guru Besar atau Profesor, pengamat, peneliti yang sebenarnya kurang relevan dengan topik yang dibicarakan. Hal ini disebut sebagai Ultracrepidarianisme. Ultracrepidarianisme-kebiasaan memberikan pendapat dan saran dalam hal-hal di luar pengetahuan atau kompetensi seseorang. Dan lagi lagi hal inii disebabkan tak seorang pun dari kita ingin terlihat bodoh, atau setidaknya terkalahkah, dengan mengakui kita tidak tahu sebuah jawaban.

Hal menarik lainnya dari buku ini adalah jika anda tidak bahagia dan Anda punya sesuatu yang bisa disalahkan atas ketidakbahagiaan Anda-apakah itu pemerintah, atau ekonomi, atau lainnya-maka hal itu membuat anda kebal terhadap tindakan bunuh diri. Kalau yang ini saya juga baru tahu. Pantas, walau saya kurang tahu angka pastinya berapa angka bunuh diri di Indonesia, tapi kini jelas kalau mengapa kasus bunuh diri disini relatif jauh lebih rendah dari negara-negara lain. Seperti Jepang. Disini dugaan saya karena masih banyak hal yang bisa dijadikan scapegoat. Seperti pemerintah yang korup, krisis atau perlambatan ekonomi, pemutusan hubungan kerja, bencana alam masih sering terjadi. Bahkan menjadi makanan sehari-hari. Dugaan lain adalah masyarakat kita sebenarnya masyarakat yang telah “kebal” atau bisa jadi telah terbiasa sehingga terbiasa “bersabar” dan “bersyukur” dengan kondisi atau bencana apapun.

Levitt dan Dubnerr juga bilang ahwa alih-alih mencoba meniru dunia nyata di sebuah laboratorium, terapkan pola laboratorium ke dunia nyata. Anda masih menjalankan sebuah eksperimen, tetapi subjek tidak selalu mengetahuinya, yang berarti umpan balik yang akan Anda peroleh bersifat murni. Terutama untuk ilmu-ilmu sosial yang memang sulit untuk dilakukan pemisahan antar variabel. Baik Variabel bebas, variabel terikat, variabel moderator. Semuanya saling kait mengkait dan rumit. Butuh aplikasi olah data khusus dan teknik analisis khusus. Sedangkan dalam ilmu alam, seperti fisika, kimia, engineering semua faktor hampir dapat diisolir masing-masing (walaupun ada pengeculian untuk riset subatomic particle, karena pengamatan dan pengukuran mempengaruhi hasil) . Sehingga dapat didapatkan hubungan yang jelas antar faktor atau variabel dan diturunkan dalam bentuk persamaan matematis dengan presisi tinggi. Tak heran dalam ilmu sosial derajat kepercayaan yang diterima lazim adalah 95 %. Sedangkan dalam ilmu alam, derajar kepercayaan adalah 99%.

Poin penting lainnya yang menurut saya perlu digarisbahawai di buku ini adalah di negara-negara Finlandia, Singapura, dan Korea Selatan misalnya calon guru direkrut dari mahasiswa terbaik perguruan tinggi, sedangkan guru di USA cenderung berasal dari peringkat tengah ke bawah di kelasnya. Well, tidak jauh berbeda dengan Indonesia dimana para lulusan terbaik rata-rata enggan atau kurang tertarik untuk menjadi pendidik seperti guru ataupun dosen. Walau kini telah ada perbaikan berupa tujangan guru/dosen sesuai angka kredit.  Pilihan karir sebagai guru atau dosen sebagai pendidik masih belum menjadi pilihan utama.

Cerita menarik lainnya adalah Takeru Kobayashi. Pemegang rekor dunia memakan hotdog sejumlah 50 dalam waktu 10 menit. Ya anda tidak salah dengar atau baca. Berarti 12 detik untuk memakan satu hotdog (roti dan sosis).  Sebuah rekor dunia yang sebelumnya hanya mencapai 25 saja. Ternyata rahasianya Takeru Kobayashi mengumpulkan umpan balik untuk mengubah permainan. Melakukan penelitian dan mencoba berbagai metode yang paling efektif dan efisien untuk melahap hotdog. Takeru mengisolasi diri selama 6 bulan. Lalu Takeru merekam setiap percobaan dengan video dan memeriksa hasil catatan waktunya. Rahasianya adalah sambil sedikit mencelupkan roti dalam air dan teknik khusus untuk menahan rasa untuk muntah yang secara alami muncul.

Dan banyak temuan mengejutkan lainnya. Sepeti pesepeda menyesuaikan diri dengan avatar mereka melebihi kecepatan yang mereka pikir kecepatan tertinggi mereka. Di Amerika Serikat, orang-orang membuang 40% makanan mereka. Ketimbang mengatasi akar masalah, kita lebih sering menghabiskan miliaran dolar untuk mengatasi gejala (simtom). Perselisihan etnis cenderung ditekan oleh penjajahan, tetapi ketika orang-orang Eropa akhirnya kembali ke Eropa, negara-negara Afrika tempat kelompok-kelompok etnis yang tidak ramah telah dicampuradukkan secara artificial tersebut jauh lebih mungkin untuk terjerumuskan ke dalam peperangan.  Serta Apa yang menyebabkan sakit magh atau tukak lambung ? Jawabnya adalah Heliobacter pylori, Robin Warren dan Barry Marshal, tahun 2005 dianugerahi hadiah nobel.

Hal menarik lainnya adalah :Mana yang lebih berkontribusi terhadap penurunan tingkat kejahatan : faktor A (Aturan kepemilikan senjata lebih ketat, lonjakan ekonomi, lebih banyak hukuman mati) atau faktor B (lebih banyak petugas polisi, lebih banyak orang dijebloskan ke penjara, penurunan pasar kokain). Menurut Levitt dan Dubnerr. Faktor B . Ya tapi hanya masa kini, faktor sesungguhnya bukan A atauun B. Namun faktor sesungguhnya adalah legalisasi aborsi awal 1970-an. Walau terdengar kontroversial, pelegalan aborsi ini di Amerika akan mengurangi jumlah kelahiran yang tidak diinginkan. Karena misal kehamilan di luar pernikahan dan di bawah umur. Anak-anak yang terlanjur dilahirkan akan tumbuh dewasa dengan perhatian dan kasih sayang orang tua yang kurang serta kebutuhan hidup dan pendidikan yang tidak memadai. Karena orang tua mereka “terpaksa” melahirkan karena aborsi adalah tindakan ilegal sebelum adanya undang-undang itu. Kontroversial sih memang.

Temuan lain adalah tentang Pengendapan ide. Maksudnya adalah jangan pernah bertindak bedasarkan ide baru, setidaknya selama 24 jam. Selain itu cara berpikir seperti anak-anak : Jangan takut pada sesuatu yang sudah jelas. “Bersenang-senang, berpikir kecil, jangan takut pada sesuatu yang sudah jelas”. Juga jangan lupakan bahwa Orang-orang merespon insentif. Khusus kasus insentif ini memang terkadang disalahgunakan. Seperti Hidrofluorcarbon 23 (HFC-23), pabrik-pabrik memproduksi HFC-23 lebih banyak untuk mendapatkan insentif dari United Nation.

Levitt dan Dubnerr memberikan sejumlah aturan yang benar tentang Insentif :

  • Ketahuilah apa yang benar-benar orang pedulikan, bukan apa yang mereka bilang pedulikan
  • Beri mereka insentif pada dimensi berharga untuk mereka, tetapi murah untuk anda berikan
  • Perhatikan bagaimana orang-orang merespon, jika respon mereka mengejutkan atau memusingkan anda, belajarlah dari hal itu dan cobalah sesuatu yang berbeda
  • Bila memungkinkan, ciptakan insentif yang mengubah kerangka permusuhan menjadi kerja sama
  • Jangan pernah berfikir bahwa orang-orang akan melakukan sesuatu hanya karena hal itu benar untuk dilakukan
  • Ketahui bahwa beberapa orang akan melakukan semua sebisa mereka untuk mempermainkan sistem, menemukan cara-cara untuk menang yang tidak pernah bisa anda bayangkan

Banyak cerita menarik lainnya seperti Raja Sulaiman, tentang cerita potong anak menjadi dua untuk dua Ibu yang mengaku Ibunya. Seorang Ibu biologis yang asli akan memilih dia yang mati menggantikan anaknya dan anaknya diasuh dibesarkan oleh Ibu yang mengaku-ngaku sekalipun bukan Ibu Biologis.

Lalu Grup Musik Van Helen, permintaan khusus dari Grup musik itu kepada setiap promotor yang akan mengontak mereka untuk konser isa dikatakan “nyeleneh” atau “aneh”. Permintaan itu adalah “Sepiring permen M&M tidak boleh ada yang berwarna coklat, barang satu butir pun”. Ini merupakan cara untuk memastikan promotor adalah orang yang teliti dan memperhatikan hal-hal yang kecil. Bila sepiring permen M&M ditemukan warna coklat, itu merupakan sinyal bagi mereka untuk mengecek uang semua perlengkapan dan panggung sebelum konser.

Serta masih bayak lagi hal-hal menarik lainnya seprti hanya terdakwa yang tidak bersalah yang bersedia menjalani siksaan, karena mereka percaya Tuhan akan campur tangan. Penipuan Nigeria, dari 10.000 kirim email mungkin hanya 100 yang membalas, 1%, dari 100 yang akhirnya terjebak mungkin hanya 10. Tahukah anda bahwa 95% alarm pencurian merupakan alarm palsu. Bagaimana ciri-ciri algoritma mendeteksi rekening bak teroris.

Algoritma mendeteksi rekening bank yang diduga teroris:

  • Mereka cenderung menyetorkan deposit awal yang besar dan kemudia terus menarik uang daari waktu ke waktu tanpa penambahan yang stabil
  • Aktifitas perbankan tidak mencerminkan aktifitas biaya hidup yang normal
  • Beberapa dari mereka rutin menerima atau mengirim transfer dana asing tetapi jumlahnya jauh di bawah batas pelaporan

Hal menarik lainnya adalah Teroris hampir tidak pernah membeli polis asuransi jiwa. Lalu “…meyakini bahwa anda benar tidaklah sama dengan anda benar…”. Teroris, misalnya, cenderung lebih berpendidikan daripada rekan-rekan mereka yang bukan teroris. Ada juga nasihat seprti oleh Michael Bloomberg. Michael Bloomberg  “…Dalam kedokteran atau dalam sains, jika Anda menyusuri sebuah jalan dan ternyata buntu, Anda sebenarnya sudah memberikan sebuah kontribusi, karena kita tahu kita tidak harus menyusuri jalan itu lagi.”. Poin terkahir yang menurut saya menarik adalah tentang Premortem : mengumpulkan semua pihak yang terkait dengan proyek dan membayangkan bila proyek tersebut diluncurkan dan gagal, apa saja yang membuatnya gagal.

Lalu apa inti dari buku “Think Like a Freak”?. Levitt dan Dubnerr bilang sebagai berikut “Berhenti adalah inti terdalam dalam berpikir seperti orang aneh”. Ya. Berhenti. Berhenti sejenak untuk selalu menanyakan segala hal. Kembali berpikir seperti anak-anak. Bukan kekanak-kanakan. Menanyakan segala sesuatu terlebih dahulu, bahkan untuk hal-hal yang tampaknya sudah sangat jelas dan tidak perlu ditanyakan. Pertanyaan lebih penting daripada jawaban itu sendiri.

Keunggulan

Overall buku “Think Like a Freak” ini buku yang “unik” dan pastinya menarik untuk dibaca. Tipikal “freakconomic” atau Levitt-Dubnerr-Nomic. Mengajarkan kita agar selalu bertanya serta menyampaikan temuan-temuan menarik yang terjadi di sekitar kehidupan kita sehari-hari. Hal-Hal yang tampaknya “sudah dari sononya” atau memang begitu adanya. Ternyata aslinya tidak seperti dipikirkan banyak orang. Selalu ada perspektif yang menarik dan alasan sebenarnya mengapa suatu hal terjadi.

Kelemahan

Khusus untuk versi terjemahan masih banyak istilah-istilah yang malah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa menyertakan kata aslinya dalam bahasa Inggris. Seperti Game Theory diterjemahkan menjadi teori permainan, bycle rider (pesepeda), Double Leverage (pengangkat ganda). Menurut saya khusus istilah asing tetap ditulis aslinya atau bila akan ditulis dalam bahasa Indonesia tetap menyertakan istilah asing. Well, prefereni masing-masing penikmat buku sih.

Kesimpulan

Menarik dan layak beli.

Daftar Isi

Bab I             : Apa Maksud Berpikir seperti Orang Aneh?

Bab II            : Tiga Kata yang Paling Susah Diucapkan

Bab III           : Apa Masalah Anda?

Bab IV           : Kebenaran ada di dalam Akar

Bab V            : berpikir seperti anak-anak

Bab VI           : Seperti Memberi Permen Kepada Balita

Bab VII         : Apa Kesamaan Raja Sulaiman dan David Lee Roth?

Bab VIII        : Cara Membujuk Orang yang Tidak Mau Dibujuk

Bab IX           : Sisi Baik dari Berhenti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s