Tips

7 Tips Membagikan Angket (Kuesioner Penelitian)

Apa yang terlintas di pikiran Sob tentang kata “angket”?. Bagi siapapun yang sedang melakukan penelitian yang membutuhkan data primer berupa jawaban atau respon dari sejumlah kelompok orang tertentu (sampel), atau mahasiswa tingkat akhir yang sedang skripsian pasti tidaklah asing. Ya, angket atau kuesioner penelitian , yaitu instrumen atau alat untuk mengumpulkan data berisi sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh responden untuk kemudian hasil rekapitulasi jawaban tersebut akan diolah dan dianalisis dengan metode tertentu.

Dulu penulis pikir membagikan angket itu gampang, i mean, tinggal ambil contoh angket dari jurnal internasional, ditermahkan, kalau perlu pakai penerjemah tersumpah, lalu diuji validitas lalu uji reliablitas, dan kemudian tinggal sebar dan dapat hasilnya yang diharapkan. NYATANYA: SALAH BESAR!Banyak kendala dihadapi saat mengumpulkan data lewat angket.Seperti responden yang enggan mengisi karena merasa data sensitif (misalnya keuangan), responden yang mengisi asal-asalan yang akibatnya data tidak dapat diolah karena outlier, lamanya mendapat jumlah minimal responden melalui cara membagikan angket yang sudah biasa (termasuk melalui google forms), dan responden yang enggan mengisi angket karena merasa tidak ada imbal balik apapun bagi responden . Yah, begitulah. Untung masa masa itu sudah lewat. Untuk itu kali ini penulis akan membagikan pengalaman penulis yang sekiranya dapat membagi Sob sekalian bila kemudian hari harus mengumpulkan data melalui instrumen angket, here they are:

  1. Use google form in optimal way

Kalau dahulu membagikan angket hanya tersedia pilihan terbatas, berupa membagikan lembaran-lembaran berisi pertanyaan yang harus diisi responden, maka sekarang kita bisa dengan mudah menyusun dan mengkustomisasi angket kita menggunakan google form. Thank to Google. Ada tutorial bertebaran di internet tentang cara membuat angket dengan Google form. Salah satunya disini. Setelah selesai menyusun angket dan lolos uji validitas dan reliabilitas, kita bisa dengan mudah membagikan link angket kita dari Google form tersebut di facebook, twitter, path, IG, grub-grub Fb, grup BB, Grup WA yang sesuai target responden kita. Yah, sangat praktis dan murah.

 

  1. Lolos Uji Validitas dahulu baru kemudian Uji Reliabilitas

Jangan lupa, langkah selanjutnya setelah selesai menyusun angket adalah menguji validitas. Baru kemudian setelah lolos validitas dilanjutkan dengan uji reliabiltas. Uji ini biasa juga disebut piloting test. Penulis pernah melakukan piloting test sampai tiga kali sampai hasil uji validitas dan reliabilitas dinyatakan lolos. Responden biasanya sejumlah 30 orang untuk tiap sesi Pilot test. Langkah-langkah melakukan uji validitas dan reliabilitas yang jelas dan runtut menurut penulis ada disini.

 

  1. 1 pertanyaan 1 jawaban

Tips ketiga ini, penulis dapati saat sidang outline (proposal penelitian) dari dosen penguji. Beliau berkata bahwa 1 pertanyaan dalam suatu daftar pertanyaan suatu angket hanya menghasilkan 1 jawaban. Selain itu tidak boleh ambigu.

 

  1. Cukup 30 s.d. 50 item pertanyaan

Jumlah pertanyaan ideal dalam suatu angket menurut penulis adalah berkisar 30 s.d. 50 pertanyaan. Karena menurut pengalaman lebih dari 50 pertanyaan akan membuat malas responden untuk mengisi. Belum lagi risiko karena dianggap item pertanyaan terlalu banyak, maka responden akan “terlalu cepat” menyelesaikan angket tanpa tuntas membaca pertanyaan satu per satu sampai selesai.

 

  1. Taruh item pertanyaan data diri responden yang relatif sensitif di halaman terakhir angket

Tips kelima ini, penulis dapatkan saat melakukan pilot test. Jadi ternyata, responden akan relatif lebih banyak mengisi angket bila item pertanyaan data diri responden seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, penghasilan, lokasi usaha, dan data sensitif lainnya bila diletakkan pada halaman paling akhir pada angket. Selain itu, minimalkan memberikan kolom untuk mengisi komentar atau pendapat dari responden yang terlalu banyak. Karena hal tersebut juga membuat responden malas menyelesaikan angket.

 

  1. Beri Insentif yang tepat untuk Responden

Ide memberikan insentif ini adalah tidak ada orang yang mau melakukan sesuatu tanpa dia akan bertanya “apa benefit/manfaat yang saya dapatkan?”. Ada beragam jenis insentif. Mulai dari yang paling konventional: senyum. Well walau lumayan efektif, selalu memberi senyum kepada responden tanpa memberi apapun yang “tangible” yang langsung dapat terasa manfaatnya, juga kurang efektif. Jenis insentif kedua adalah PULSA. Yah, insetif ini lumayan praktis namun kurang ekonomis dan efektif. Kurang ekonomis karena nominal pulsa paling sekarang adalah Rp5000,00 dan dijual dengan harga sekitar Rp7000,00. Penulis pernah bereksperimen bahkan dengan insentif PULSA Rp25.000,00 per responden pun, hanya menghasilkan jumlah responden yang mengisi tidak lebih dari 50 orang. Ketiga, insentif yang paling efisien dan efektif menurut pengalaman penulis saat penelitian beberapa waktu lalu adalah “benda apapun yang lagsung dapat dipakai atau dirasakan manfaatnya”. Contohnya di gambar di bawah ini. So macem-macem, seperti : dompet kecil, sarung hape, sisir kecil, cermin, pisau buah, pemotong kuku, gantungan kunci, tempat pensil, bolpoin, celemek gulung, celemek gelas. Harganya pun relatif murah, hanya Rp1.500,00 s.d. Rp3.500,00 per buah bila membeli minimal 1 lusin di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

 

  1. Gunakan jasa survey online bila perlu

Jaman semakin canggih. Perkembangan pemakaian smartphone dan coverage internet yang semakin merata di seluruh Indonesia. Ditambah semakin meningkatnya kebutuhan akan survey data yang cepat , murah, valid, reliable, dan dapat menjangkau bahkan seluruh provinsi nampaknya dijadikan peluang Bisnis oleh perusahaan-perusahaan survey. Seperti Jakpat, nusaresearch. Tarif yang ditawarkan cukup kompetitif, dan bahkan ada diskon tertentu untuk mahasiswa. Penulis pernah menggunakan jasa survey online Jakpat ini untuk pilot test. Hasilnya kita dapat mengumpulkan data primer lebih dari 100 hanya dalam tiga hari. Efektif dan efisien dibandingkan cara konventional membagikan ke responden langsung terutama bila kita punya keterbatasan waktu, jadwal kampus yang kaku, dan keterbatasan mobilitas. Namun, tetap ada kelemahan, untuk sample responden yang sangat spesifik misalnya kelompok marginal, atau profesi tertentu bisa jadi tidak terjaring dalam database Jakpat. Juga yang tidak mempunyai smartphone. Karena Jakpat sifatnya adalah menghubungkan antara orang yang butuh data untuk survey dengan targeted responden. Targeted responden akan mendapat poin setiap kali selesai mengikuti survey atau mengisi angket via aplikasi jakpat di smartphone mereka. Poin tersebut kemudian dapat diredeem menjadi barang atau hadiah tertentu bila telah mencapai jumlah tertentu. Kreatif ya.

Yup, itu 7 tips membagikan angket dari penulis. Semoga bisa bermanfaat dan membantu Sob sekalian yang sedang meneliti. Selamat meneliti. Semoga lancar dan sukses.

Advertisements

4 thoughts on “7 Tips Membagikan Angket (Kuesioner Penelitian)

    1. tahun lalu, seingat saya waktu tanya ke adminnya 150 responden : 150 xRp20.000,00 x 50% karena status mahasiswa. Berarti Rp 10.000,00 per responden. Relatif murah dan praktis.

  1. mau tanya, kalau soal angketnya dibawah 20 apakah boleh atau tidak? untuk jumlah minimm butir angketnya apakah harus 30 atau bagaimana? terimakasih.

    1. menurut saya di bawah 20 item pertanyaan boleh, tergantung jumlah komponen per variabel yang diproxikan sebagai pertanyaan (mewakili per variabel). Tidak harus 30 tapi menurut pengalaman lebih dari 30 pertanyaan responden menjadi malas menjawab dengan teliti dan benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s