Mountaineering

MENGGAPAI PESONA SEMERU (2)

Ranu Kumbolo-Tanjakan Cinta-Oro-oro Ombo-Cemara Kandang-Landengan-Kalimati
Pagi hari di Ranu Kumbolo itu spesial kawan. Danau seluas 15 Hektar ini mengingatkan saya pada gambar legendaris dua gunung kembar dengan matahari terbit di tengah-tengahnya, hanya saja ini berupa danau di tengah-tengahnya, bukan jalan. Pesona Sunrisenya subhanalloh indahnya. Matahari sedikit naik ke atas, dan danau Ranu Kumbolo benar benar menjadi cermin alam atas lukisan Sang Pencipta, seperti ini penampakannya.

Sunrise at Ranu Kumbolo
Sunrise at Ranu Kumbolo
Rabu Kumblo di pagi hari
Rabu Kumblo di pagi hari

Setelah sarapan, kami pun packing, dan setelah briefing untuk persiapan perjalanan selanjutnya. Track yang akan kami lalui adalah Tanjakan Cinta-Padang Sabana (Oro oro Ombo)-Cemara Kandang-Jambangan-dan Kalimati. Kami Pun berangkat, sekitar sepuluh menit berjalan kami melewati Pos Shelter Ranu Kumbolo. Kami menyempatkan foto-foto dulu disini. Setelah itu, kami harus menghadapi tanjakan yang sangat terkenal. Konon, siapa saja yang berhasil sampai di atas tanpa menoleh ke bawah akan mendapat jodoh yang diinginkan dan langgeng. Hahaha….They’re kidding, right?. Kemiringan sih cuma 30 derajat-an dan jarak tanjakan sekitar 200 meter cukup menguras energi. Apalagi sambil membawa keril 80 L berisi logistik ini. Pegelee Poll.

Tanjakan Cinta
Tanjakan Cinta

Sesampainya di puncak, kami istirahat sebentar dan melanjutkan ke track berikutnya. Track yang sekali lagi membuat tim kami, Surken, berfoto ria . Lha wong cantrik banget pemandangannya. Inget latar taman bunga di film-film Bollywood kan?, ya seperti itulah kira-kira. Kami beruntung karena waktu itu Oro-Oro ombo sedang “Ungu” alias berbunga. Bunga warna Ungu yang sekilas mirip Lavender. Bukan Lavender sih tapi. Hohoho.

Oro Oro Ombo
Oro Oro Ombo

Setelah puas berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan.Tidak sampai tiga puluh menit, kami sampai pada Pos yang banyak ditumbuhi cemara disekitarnya, Cemoro Kandang. Sekedar sebentar melepas lelah, sesaat kemudian kami melanjutkan perjalanan Tracking kami. Track kali ini berbeda, lebih banyak tanjakan dengan sedikit turunan atau bonus. Saya masih ingat saya dan tim kami banyak berhenti untuk mengambil nafas dan merebahkan badan. Track yang terus menanjak, terjal, terik matahari, debu menemani kami sepanjang perjalanan jalur ini.

Kira-kira pukul 15.30 kami tiba di pos Landengan, pos sebelum Kalimati, tujuan kami untuk bermalam selanjutnya untuk Summit Attack. Sambil melepas lelah kami mengabadikan Semeru yang dari pos ini tampak tinggi menjulang menunjukkan kegagahannya dan dari sini pula kami bisa melihat dengan jelas Semeru sebagai gunung yang masih aktif, Lontaran material vulkanik menyembur dari atas puncak Semeru secara teratur sekitar 15-20 menit sekali.

Mahameru  dilihat dari Pos Kalimati
Mahameru dilihat dari Pos Kalimati

Tak sampai Setengah jam berjalan , Kami tiba di Pos Kalimati. Kalimati adalah pos terakhir dimana asuransi akan mencover para pendaki, lebih dari ini, asuransi tidak akan menanggung bila ada kejadian buruk menimba pendaki. Disini kami lebih pada persiapan untuk Summit Attack malam harinya. Kalo pendaki umumnya untuk Summit Attack mereka akan mulai mendaki Mahameru minimal paling siang jam 01.00, maka karena pertimbangan keselamatan seluruh anggota tim, dan karena padatnya jalur ke Puncak Semeru dari Kalimati. Kami Memutuskan berangkat agak siang, jam 03.00. Pertimbangan lain yaitu, karena dalam seminggu ini , team leader kami mendapat info dan kami melihat sendiri beberapa pendaki harus ditandu ke bawah karena adanya insiden pada saat Summit Attack. Insiden yang dimaksud adalah pendaki terkena batu dari arah atas dan belum sempat menghindar karena kepadatan jalur ke puncak Semeru dari Kalimati. Gambaran padatnya jalur pendakian di punggung Semeru waktu itu ditandai dengan adanya sinar kelipan lampu flashlight dan headlamp dari kejauhan membentuk garis tanpa putus dari bawah sampai puncak Semeru. Bahkan dari Kalimati pun keliatan jelas “rail of light” ini.

Suryakencaners at Kalimati
Suryakencaners at Kalimati

SUMMIT ATTACK : Kalimati-Mahameru

Pukul 03.00 All SuryaKencana Squads telah bersiap untuk mulai Summit Attack. Setelah makan, persiapan bekal snack dan air untuk summit attack, briefing dan doa bersama kami pun berangkat. Karena masih malam dan untuk membedakan dengan pendaki dari grup lain, masing –masing dari kami mengenakan “Glow Straw” , gelang berpendar warna kuning di kegelapan. Udara dingin gunung Semeru tidak bisa dibohongi. Walau sudah memakai sweeter, jaket windprof, dan jaket polar, masih terasa dinginya.Brrrr. Saya Menduga ini lebih dingin daripada saat nge-camp di Ranu Kumbolo. Sejam berjalan muncak dari Kalimati, sampailah kami pada pos Kelik. Ada perubahan jalur pendakian Summit Attack tahun ini. Kalo sebelumnya via Kalimati-Arcopodo-Cemara Tunggal, sekarang menjadi Kalimati-Kelik-Cemoro Tunggal. Dengar-dengar dari Bang Ase, jalur Arcopodo sekarang digunakan khusus untuk para porter.

Jam menujukkan pukul 04.30 di Kelik, dan setelah istirahat beberapa menit sambil menunggu semua anggota kelompok dari tim lain lengkap, perjalanan dilanjutkan. Dan ebnar saja, apa yang dikatakan bang Indra pada saat briefing benar, apa yang kami alami mulai dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo lalu ke Kalimati tidak ada apa-apanya. Track diawali dengan melewati jalur setapak kecil dengan kanan kiri jurang, yang kemudian hari baru nyadar itu yang namanya Blank 75.Serem lah pokoknya Blank 75 ini. Di sepenjang track kami melihat beberapa monumen bertuliskan nama-nama orang pendaki sebelum kami, yang meninggal pada saat Summit Attack. Sejam mendaki ke atas, kami sampai di pos Cemoro Tunggal , batas vegetasi di punggung Gunung Semeru. Kami tahu memang tidak mungkin mengejar sunrise di puncak kalo berangkat pukul 03.00. Tapi subhanalloh, view sunrise disini indah bukan main. Apalagi sambil melihat ke bawah dan kita bisa melihat Kali mati, dan bukit-bukit yang telah kami lewati serta view dari gunung lain di kejauhan.

sunrise di batas vegetasi, cemoro tunggal
sunrise di batas vegetasi, cemoro tunggal

Track Summit Attack Gunung Semeru itu berpasir, kerikil, batu, batu besar, batu sangat besar, dan bertekstur” penghisap” .Penghisap stamina tepatnya. Bagaimana tidak, untuk mencapai posisi 2 langkah ke atas di depan kita, harus melangkah 5 sampai 6 langkah. Kemiringan track pada awal-awal setelah pos Cemoro Tunggal masih sekitar 30 derajat dan dengan tekstur tanah pijakan berpasir kerikil komposisi 3:1.

Track berpasir, kerikil, batu
Track berpasir, kerikil, batu

Semakin ke atas, kemiringan maskin “Gila” dan “menghancurkan semangat”. Saya masih ingat betul, di sepanjang jalur menjelang puncak Mahameru, saya harus menggunakan bukan hanya kedua kaki untuk mendaki ke tas, tapi juga kedua telapak tangan, siku, dan badan. Bukan mendaki tapi merayap tepatnya, kemiringan sekitar 60 derajat. Jam menunjukkan pukul 08.00 yang berarti saya sudah 5 jam mendaki tapi belum sampai puncak juga, sementara cadangan air hampir habis dan stamina terkuras hebat. Saya hampir menyerah waktu itu. Tapi memutuskan tidak menyerah, dan menerapkan tips dari Bang Didit, maju sepuluh langkah berhenti tiga puluh detik, maju sepuluh langkah berhenti tiga puluh detik. Begitu terus, saya kumpulkan tekad dan semangat.

Track yang semakin ke atas semakin "Gila"
Track yang semakin ke atas semakin “Gila”

Dari perjalanan Summit Attack ini saya belajar pengalaman sebenarnya arti Energi dari Tekad dan Semangat pantang menyerah, klo yang biasanya saya dapat hanya dari membaca buku-buku self help gratis di Gramed. They do Exist.
Dan akhirnya, setelah total enam jam mendaki, puncak tertinggi Jawa tergapai Juga. Mahameru. Puncak Abadi para dewa. Perasaan campur baur pun memenuhi hati, gembira dan senang tentunya. Juga haru, dan bersyukur ke Gusti Alloh SWT karena saat tahu waktu semakin sempit karena telah jam 09.00 dan masih juga sampai puncak. Padahal dari briefing saya diberitahu kalo batas maksimal di puncak adalah pukul 10.00 lebih dari itu harus turun , no kompromi. Karena lewat jam itu, arah angin menjadi sangat tidak dapat diduga dan berganti arah dengan cepat dan sangat berbahaya bila asap vulkanik Semeru sampai ke arah pendaki. Tidak ada yang mau bernasib seperti Soe Hoek Gie kan. Safety first.

Sampai Puncak, Mahameru
Sampai Puncak, Mahameru

Saya sampai puncak bersamaan dengan bang Adhie, yang gak sampai lima belas menit kemudian Bang Nino menyusul dan langsung sujud syukur di Mahameru. Mungkin terharu dan bersyukur jauh-jauh dari Medan plus naik kereta 18 jam lagi , hehehe, akhirnya berhasil sampai puncak juga. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara gemuruh yang datang seketika, Bang Adhie langsung menyuruh kami “kamera-kamera siapkan, Mahameru mau keluarin asap lagi”. Dan benar saja, beberapa detik kemudian Asap vulkanik berwarna abu-abu kecoklatan menyembur cepat dan masif menjulang ke atas setinggi beberapa ratus meter. Tak mau menyia-nyiakan momen langka dan unik ini, langsung saya abadikan via kamera bergantian dengan Bang Nino. Tak Lupa foto-foto di monumen Puncak Mahameru.

di atas awan
di atas awan

Tak Lama setelah momen semburan asap vulkanik tadi, our compatriot , Bang Arief sampai Puncak . Ekspresi lelah, capek, bahagia, dan haru tak dapat disembunyikan dari wajah Bang Arief. Kami berempat pun mengadabadikan momen kami bersama ini yang berharga dan akan kami kenang selamanya ini dengan kamera masing-masing secara bergantian.

Bersama rekan rekan d puncak 3676 mdpl, Mahameru
Bersama rekan rekan d puncak 3676 mdpl, Mahameru

Sekitar jam 10.00 Bang Adhie mengajak segera turun agar tidak terjadi insiden apapun. Kami berempat pun Turun. Berbeda dengan waktu mendaki puncak, menuruni puncak ini sangat mudah, Bukan 3:1, 4:1,5:2 tapi 1: 2, 1:3 artinya kaki melakah turun 1 , kita akan turun 2 atau 3 langkah. Seperti bermain ski “pasir” di punggung Semeru. Kemudian bedanya lagi, kalo untuk muncak atau Summit Attack ini saya butuh 6 jam totalnya dari Kalimati, maka turun ini Cuma sekitar sejam setengah saja. Hahahaha. Pukul 11.30 kami sudah sampai lagi di pos Kalimati, tampat tenda kami…

Bersambung….(Part 2 of 3)

Advertisements

10 thoughts on “MENGGAPAI PESONA SEMERU (2)

      1. Hohoho…aminn…rakum juga cantik bgt …difoto pake camdig atau hape biasa aja hasilnya bisa cakep banget…ngangenin…:))

    1. iyaa…bagus banget view d mahameru…gak sia sia nanjak enam jam pokoknya dari Kalimati..yup, mas Fadhil wajib datang kesini…gak rugi kok…amin.. 🙂

  1. Mas ifin koreksi mas,
    Yg dari medan ane tuch bukan mas arief..
    Hahaha…
    Kpan kita nanjak bareng lagi ???
    Kangen sama Surken Team..
    Tahun Depan Rinjani yok ???

    1. hai mas Nino…waduh iyaa….mhon maaf…akn diperbaiki…
      Yuk mas, tim Surken lagi juga boleh, :),
      Moga bisa sempet ngerasain Rinjani,n waktunya dpet, soalnya mulai sept sy tugas belajar, lanjut kuliah lagi, gak ngantor, libur agak panjang hy pas setelah Ujian Semester..

  2. wach asik dunkz mas ifin liburnya bisa lama…
    bisa nanjak terus.
    hehehehe…
    Ne ane ge ngumpulin cuti sama uang tuk next destination.
    Mt. Rinjani.
    Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s